Your paragraph text.png

Hakim dan Dua “Courts”: One For Justice, One For Game

HAKIM DAN DUA “COURTS”: ONE FOR JUSTICE, ONE FOR GAME

Tetri Mutiara Afsaloka

Hakim Pengadilan Agama Pagar Alam

 

          Beberapa saat yang lalu, Turnamen Tenis PTWP Berintegritas Zona Sumatera Tahun 2025 bertempat di Kota Padang, telah sukses dilangsungkan dengan penuh semangat dan sportivitas. Para Ketua Kamar dari empat lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung Republik Indonesia turut hadir memeriahkan turnamen. Masing-masing kamar peradilan mengirimkan atlet-atlet terbaiknya, mulai dari para hakim maupun aparatur peradilan, untuk berpartisipasi dalam ajang bergengsi ini. Bapak Fachrurrozi Repado mewakili Pengadilan Agama Pagar Alam yang tergabung dalam Tim PTWP Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Palembang menyuguhkan performa terbaiknya dan berhasil memboyong pulang Piala Juara I pada kategori tenis beregu putra zona Sumatera ke Bumi Sriwijaya, ditengah membaranya kompetisi dari seluruh peserta di Ranah Minang. Lalu pada Juni 2026 mendatang kompetisi tenis terbesar yang ditunggu-tunggu oleh warga Peradilan agar segera dimulai yaitu Piala Ketua Mahkamah Agung yang akan diadakan di Malang.

Penggalan narasi di atas hanya sediki dari banyaknya jelmaan bukti bahwa Tennis menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi warga Peradilan. Tenis bagi warga peradilan bak ritual yang menyatukan tubuh maupun pikiran. Tenis bagi warga peradilan bak ruang yang terpahat di dalamnya terjaga semangat dan integritas yang terajut tali silahturahmi melampaui sekat jabatan serta kewenangan. Tenis bagi warga peradilan bukanlah soal trend olahraga belaka. Para Hakim telah lebih dahulu mengayunkan raketnya disela-sela tugas yudisial mereka. Kilas balik, Sejarah mencatat bahwa Pemrakarsa Tenis di lingkungan Peradilan dimulai pada tahun 1976 di Jakarta dengan momentum pertandingan Tenis “Piala Oemar Seno Adji” untuk diperebutkan bergilir bagi warga Peradilan seluruh Indonesia. Dalam perkembangannya, pada tahun 1992 turnamen Tenis warga Pegadilan mengalami perubahan nama piala menjadi “Piala Ketua Mahkamah Agung” yang akan diperebutkan setiap tahunnya hingga saat ini.

"Mengapa tenis? Apa yang membuat tenis begitu erat dalam kehidupan Peradilan, hingga menjadi identitas tersendiri bagi warga Peradilan?

Pertanyaan yang kerab muncul ini bukan tanpa alasan, di tengah begitu banyak cabang olahraga. Padahal Tenis bukan olahraga yang mudah, dibutuhkan latihan keras dengan konsisten yang tidak boleh luntur, justru menjadi pilihan utama yang dipertahankan dalam setiap ajang silaturahmi dan kompetisi antarwarga peradilan. Dalam hal disiplin dan tanggung jawab, baik di Pengadilan maupun di Lapangan Tenis seorang Hakim harus menjaga fokus, mengatur emosi, bersikap tenang dalam segala tekanan dan penuh tanggung jawab atas setiap putusan yang dibuat dengan integritas dan keadilan, bukan hanya perihal strategi dan kekuatan fisik semata. Maka prasa yang dapat menggambarkannya adalah “Living Between Two Courts: one for justice, one for game”.

Hidup seorang Hakim berlangsung diantara dua “court” bukan hanya sebuah metafora yang diagung-agungkan, keduanya baik pada ruang sidang maupun di lapangan tenis melekat refleksi dari etos kerja dalam profesi ini. Di atas lapangan, kesalahan kecilpun berujung kehilangan poin, di Pengadilan, kekeliruhan kecil berdampak pada nasib orang lain. Dan diantaranya, ada aturan yang harus ditegakkan dan dijunjung tinggi meskipun langit akan runtuh sekalipun. Bagi seorang Hakim hidup diantara dua “court” bukan pilihan, namun anugerah yang patut disyukurin. Pagi menegakkan keadilan, sore mengukir kemenangan